Khalifah Harun Ar-Rasyid, Pemimpin Negeri 1001 Malam

Kisah Khalifah Harun Ar-Rasyid
Ilustrasi Baghdad

Kisah Inspirasi – Namanya adalah Harun bin Al-Mahdi bin Al-Manshur, ia menjadi Khalifah setelah kematian saudaranya, Al-Hadi pada tahun 170 Hijriah. Kakeknya, Abu Ja’far Al-Manshur adalah pendiri kota Baghdad.

Suatu hari, seorang ulama terdekat Harun Ar-Rasyid bernama As-Sammak datang menemuinya di Istana kerajaan.

Pada saat itu, Harun meminta segelas air minum kepada pelayannya. Pelayannya segera mengambil air dan ketika Khalifah mengangkat gelas untuk minum,  As-Sammak berkata, “Tahanlah wahai Amirul Mukminin, andaikata orang-orang mencegahmu untuk meminum air ini, berapa yang akan kau keluarkan untuk membeli air ini?”

Tanpa pikir panjang Khalifah Harun Ar-Rasyid menjawab, “Akan saya beli dengan separuh kerajaanku.” “Minumlah semoga Allah memberi kenikmatan untukmu,” doa As-Sammak kepadanya.

Ketika Khalifah selesai minum, As-Sammak kembali bertanya, “Andaikata air itu tidak bisa keluar dari perutmu, dengan harga berapa kau akan membayarnya, wahai Amirul Mukminin?”

“Dengan seluruh kerajaanku!”, jawab Khalifah Harun Ar-Rasyid .

Mendengar jawaban Khalifah, As-Sammak berkata lagi, “Jika harga kerajaanmu harganya sama dengan seteguk air dan sekali buang air kecil, sudah sepantasnya orang-orang tidak memperebutkannya.”

Nasihat As-Sammak mengena di hati sang khalifah. Dan khalifah tak sanggup menahan tangisnya. Harun Ar-Rasyid memang terkenal sebagai khalifah yang suka meminta nasihat.

Khalifah Harun Ar-Rasyid  juga mudah menangis mendengar nasihat-nasihat para ulama. Ia pernah menangis hingga tak sadarkan diri ketika dinasehati oleh Fudhail bin Iyadh. Selain itu, ia juga dikenal senang dipuji. Jika ada orang memujinya dia akan memberikan sejumlah uang dalam jumlah besar.

Keberhasilan Khalifah Harun Ar-Rasyid

Masa Khalifah Harun Ar-Rasyid disebut-sebut  sebagai salah satu masa paling gemilang dalam sejarah Islam. Pada masanyalah Baghdad menjadi identik dengan sebutan negeri 1001 malam. Ia melebihi Konstantinopel dalam kemakmuran dan kemegahannya.

Pada masa pemerintahannya, pendapatan Daulah Abbasiyah mencapai 70.150.000 dinar. Pemerintah berhasil memanfaatkan Sungai Tigris dan Eufrat untuk pertanian dan sistim kanal, tanggul, serta cadangan air yang brilian berhasil mengeringkan rawa-rawa di sekitarnya.

Berbagai macam imigran datang ke Baghdad dari agama yang berbeda, mulai dari Kristen, Yahudi, Zoroaster, Hindu, datang ke Baghdad baik untuk berwisata maupun berbisnis.

Sebagai pusat dunia dan pusat peradaban, Baghdad tidak hanya sibuk di siang hari tapi juga memiliki daya tarik pada malam hari diterangi dengan cahaya lampu. Di masa kejayaan Baghdad ini, kota London dan Paris masih merupakan kota kecil yang kotor dan kacau, tanpa penerangan. Ia bahkan belum pantas disebut kota.

Harun Ar-Rasyid sangat peduli terhadap ilmu pengetahuan, karena itu dia memanggil para ilmuwan dan ulama Islam untuk datang ke Baghdad dan menetap di sana.

Di antaranya adalah Abu Yusuf, murid imam Abu Hanifah yang diangkat menjadi Hakim (qadhi) di Istananya. Ia sempat memanggil imam Malik untuk menetap di Baghdad dan mengajar kedua anaknya, tetapi sang Imam menolak.

Khalifah Harun Ar-Rasyid meninggal saat memimpin perang Thus, sebuah kota di wilayah Khurasan. Dia dishalatkan oleh anaknya bernama Shalih kemudian dimakamkan di daerah itu juga pada tahun 193 Hijriah. saat itu usianya 45 tahun. Wafatnya adalah duka bagi seluruh umat Islam.

Fudhail bin Iyadh pernah mengatakan, “Tidak ada kematian yang paling menyulitkan kami selain kematian Ar-Rasyid. Kami takut sepeninggalnya muncul berbagai malapetaka. Aku senantiasa memohon kepada Allah agar memanjangkan usianya daripada usiaku.” Semoga Allah merahmatinya.

Pujian ulama kepada Harun Ar-Rasyid

Al-Qadhi al-Fadhil berkata, “Aku tidak pernah mendengar dan tidak pernah

mendapatkan seorang raja yang melakukan pengembaraan untuk menuntut ilmu kecuali Harun Ar-Rasyid.”Imam Adz-Dzahabi, “Kisah tentang Ar-Rasyid sangat panjang. Karena sangat banyak hal yang baik yang ada pada masa pemerintahannya.”

Manshur bin Ammar berkata, “Tidak pernah sekalipun aku melihat orang yang lebih deras cucuran air matanya dari tiga orang ini, yaitu Fudhail bin Iyadh, Ar-Rasyid, dan seorang yang lain (dia lupa namanya).”

Nafthawih, “Ar-Rasyid banyak mengikuti perilaku yang dilakukan oleh kakeknya, Al-Manshur, kecuali dalam hal kekikiran. Sebab tidak pernah ada seorang khalifah pun yang sama dengannya dalam kedermawanan.”