Kisah Nabi Ibrahim Berdasarkan Ayat al-Quran

Kisah Nabi Ibrahim

Ibrahim adalah nabi ke-6 dalam Islam dan Ia bergelar Khalilullah (Kesayangan Allah). Hal ini termaktub dalam QS. An-Nisa’ ayat 125: “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.” (QS. An-Nisa’: 125)

Arti nama Ibrahim adalah sebagaimana yang tertuang dalam Taurat, bahwa Ibrahim AS dikenal sebagai Abram yang artinya ayah yang luhur. Sebagian lain berpendapat bahwa nama Ibrahim berasal dari ab, rab, dan ham yang berarti ayah, banyak dan sebagian besar. Maka, kata Ibrahim berarti “ayah bagi sebagian besar manusia” atau menjadi “pemimpin bagi sebagian besar manusia di dunia”.

Hal ini senada dengan penyebutan namanya dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 124:“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim” (QS. al-Baqarah:124).

Tulisan ini akan membahas mengenai kisah kehidupan Nabi Ibrahim AS berdasarkan ayat al-Quran.

Asal Usul Nabi Ibrahim AS

Nabi Ibrahim AS adalah putra tokoh pemahat patung terkenal di masa kekuasaan raja Namrudz. Ibrahim AS dilahirkan saat ayahnya berusia tujuh puluh lima tahun. Ibrahim AS lahir dari seorang ibu yang bernama Umaelah, sebagian menyebutnya Amilah.

Mengenai asal tempat dimana Nabi Ibrahim AS dilahirkan, terdapat empat pendapat yaitu: pertama, ia dilahirkan di kota bernama Ur. Kedua, menyatakan bahwa ia dilahirkan di daerah Babilonia. Ketiga, menyatakan bahwa ia dilahirkan di Ghautah, sebuah di wilayah Damaskus atau Syiria tepatnya di Barzat. Ke empat, ia dilahirkan di Haran dimana ayahnya berasal.

Namun diketahui sejarah hidup Nabi Ibrahim AS bermula dari kota Babilonia, lalu tumbuh menjadi remaja, kemudian berhijrah ke daerah Haran dekat Bait al-Maqdis. Tak lama setelah mereka menetap di Bait al-Maqdis, ayahnya Tarikh (Azar) meninggal dunia pada usia 250 tahun.

Ibrahim AS Mencari Tuhan yang Sesungguhnya

Hal ini bermula ketika Ibrahim telah beranjak dewasa. Ia merasa kehilangan sosok yang sebelumnya memberinya makan dan perlindungan. Terlebih, ia mendapati banyak orang yang menjadi penyembah berhala. Tetapi Ibrahim mengingkari anggapan bahwa patung berhala adalah dewa; sehingga Ibrahim berniat untuk mencari Tuhan yang sesungguhnya.

Terdapat beberapa ayat yang menjelaskan sebagian kisah tentang pencarian Ibrahim mengenai Tuhannya, seperti yang tertuang dalam al-Quran surat Al-An’am ayat 76 hingga 78:

“Ketika malam telah gelap, Dia melihat sebuah bintang (lalu) Dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam Dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” (QS. al-An’am:77).

“Kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” (QS. al-An’am:78).

“Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. al-An’am:78)

Ini adalah daya logika yang Allah karuniakan untuk Ibrahim sehingga ia menolak agama penyembahan langit yang sedang dipercayai kaumnya. Ibrahim pun menyadari bahwa Yang Mengendalikan bulan, bintang, matahari, siang dan malam; juga Yang Menciptakan seluruh makhluk di bumi adalah Tuhan yang sebenarnya.

Semasa remaja, Ibrahim sering bertanya kepada sang ayah tentang Tuhan yang sesungguhnya. Meski demikian, ayahnya tak menghiraukan Ibrahim. Ibrahim menyadari kesia-siaan patung berhala sehingga ia berusaha menyadarkan kaumnya dan menyebarkan dakwah tentang Tuhan yang sesungguhnya.

Sewaktu mendapati ayahnya tetap tidak mau meninggalkan penyembahan patung berhala, Ibrahim merasa sedih dan ingin menyadarkan sang ayah tentang kekeliruan ini. Ibrahim berusaha memperingatkan secara berulang-ulang, namun ayahnya tetap kukuh pada pendiriannya.

Ibrahim AS Memperingatkan Kaumnya

Ketika berada di Bait al-Maqdis, Ibrahim berdakwah kepada kaumnya agar menyembah Allah SWT di tengah masyarakat yang saat itu menyembah patung berhala. Patung berhala tersebut diproduksi oleh ayahnya sendiri yaitu Azar. Masyarakat memiliki bermacam-macam patung untuk disembah, diantaranya patung personifikasi rasi bintang-bintang di langit.

Keadaan seperti inilah yang menyemangati beliau mengajak kaumnya agar bertauhid kepada Allah SWT. Tetapi kaumnya tetap membangkang dan terus menyembah patung-patung yang diciptakan sendiri, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. al-Anbiya ayat 52: “(ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” (QS. al-Anbiya: 52).

Tatkala Ibrahim mempertanyakan itu kepada kaumnya, tidak ada yang bisa menjawab. Mereka terus dan tetap menyembah berhala karena itu sudah menjadi tradisi turun-temurun dari nenek moyang mereka. Inilah yang diabadikan dalam firman Allah SWT: “Mereka menjawab: “Kami mendapati bapak-bapak Kami menyembahnya.” (QS. al-Anbiya: 53).

Sewaktu telah memperoleh berbagai risalah Allah, Ibrahim tetap menyampaikan berbagai dakwah yang menentang tindakan penyembahan berhala. Hingga ketika Ibrahim menyadarkan ayah kandungnya beserta kaumnya, tentang kesesatan penyembahan berhala, hal ini terdapat dalam al-Quran surat al-An’am ayat 74:

“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar; “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. al-An’am: 74).

Nabi Ibrahim dengan tegas menganggap bahwa perilaku mereka itu sesat, tidak masuk akal, dan tidak dibenarkan serta tidak sejalan dengan tauhid aqidah yang didakwahkan kepada mereka. Suatu pernyataan dan sikap yang tegas dari Ibrahim kepada kaumnya ini dipandang sebagai bentuk keberanian dalam berdakwah yang luar biasa.

Burung yang Dihidupkan Kembali

Sewaktu Ibrahim memerangi perilaku syirik dan penyembahan berhala, ia masih ingin meneguhkan keimanannya terlebih dahulu. Maka Ibrahim memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepada dirinya tentang cara Allah menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati. Hal ini dijelaskan dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 260:

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian- bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Baqarah: 260).

Perselisihan Ibrahim AS dengan Raja Namrud

Namrud, yang telah mendakwakan diri sebagai raja di muka bumi, memerintahkan untuk mendirikan sebuah bangunan sebagai tempat menyembah patung berhala. Ketika mendapati berbagai patung berhala dijadikan sebagai sembahan, maka Ibrahim bertekad menghancurkan berhala tersebut sebagai bentuk pembuktian bahwa patung batu hanyalah benda mati yang tidak dapat bertindak apapun.

Ibrahim datang untuk meruntuhkan segala patung terkecuali sebuah patung terbesar yang dianggap sebagai sembahan paling hebat bagi kaumnya. Dalam al-Quran surat al-Anbiya’ dijelaskan:

“Mereka menjawab: “Apakah kamu datang kepada Kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?” Ibrahim berkata: “Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya: dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.” (QS. al-Anbiya’: 55-56).

“Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.” Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.” (QS. al-Anbiya’ : 57-58)

Mendapati batu-batu yang remuk beserta puing reruntuhan di tempat berhala mereka, Raja Namrud dan para penyembah berhala lainnya merasa marah, kemudian mereka hendak menghukum orang yang melakukan tindakan ini.

Terkait
1 daripada 23

Ibrahim, yang dikenal berani menentang penyembahan berhala, dipanggil untuk dihakimi. Mereka bertanya: “Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap sembahan-sembahan kami, wahai Ibrahim?” Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung terbesar itulah yang melakukan hal ini, cobalah tanyakan kepada benda itu jika memang dapat berbicara.”

Mereka pun mulai tersadar, lalu dengan kepala tertunduk, mereka berkata: “Sesungguhnya kamu telah menyadari bahwa berhala-berhala itu memang tidak dapat berbicara.” Ibrahim berkata: “Lalu mengapakah kalian menyembah kepada yang selain Allah?”

Mendengar pernyataan Ibrahim, para pengikutnya tersadar dan terpikir oleh mereka Tuhan yang selama ini disembah tidak dapat melihat, mendengar, dan bergerak. Hal ini membuat Raja Namrud menjadi semakin murka.

Ibrahim AS Dibakar Hidup-Hidup

Mendengar pernyataan bahwa kelak para penyembah berhala akan celaka, mereka tidak serta merta menyerah dan mengakui dosa. Justru mereka hendak membunuh dan membakar Ibrahim. Para penyembah berhala itu beramai-ramai mengumpulkan kayu bakar untuk sebuah perapian besar. Dalam al-Quran dijelaskan:

“Mereka berkata: “Bakarlah Dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar- benar hendak bertindak.” (QS. al-Anbiya’: 68).

“Mereka berkata: “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkanlah Dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.” “Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, Maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina.” (QS. As-Saffat: 97-98).

“Maka tidak adalah jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan: “Bunuhlah atau bakarlah dia”, lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.” (QS. al-Ankabut: 24).

Kemudian Namrud, orang yang telah mengajak seluruh penduduk negeri agar menyembah berhala, menyatakan secara angkuh: “Hal ini akan menjadi bukti, siapa raja dan dewa di muka bumi ini, serta siapa yang manusia biasa. Kalian akan menyaksikan pada hari ini bahwa orang itu dilenyapkan di perapian akibat berani menyatakan bahwa kelak Tuhannya membakar kaum kita; maka biarlah Tuhannya yang menyelamatkan orang itu, sementara akulah dewa yang menyelamatkan kalian, bukan orang itu!”

Ketika Ibrahim hendak dilempar ke perapian, sesosok malaikat hadir untuk menawarkan pembebasan untuk Ibrahim supaya dapat melarikan diri menghadapi hukuman kaumnya, namun Ibrahim berkata: “Cukuplah Yang Maha Melindungi yang memberi keselamatan kepada diriku.” lalu malaikat tersebut beranjak pergi.

Tatkala Ibrahim melompat ke perapian yang membara, seketika Allah berfirman kepada perapian supaya menjadi keselamatan terhadap Ibrahim:

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. (QS. al-Anbiya’: 69-70).

Maka api dari Allah hadir untuk melindungi Ibrahim supaya dapat berjalan dalam keadaan selamat dari tengah-tengah perapian.

Jawaban Atas Tantangan Raja Namrud

Mendapati Ibrahim selamat dari tengah-tengah perapian yang membara, sebagian besar orang berpegang pada pendapat masing-masing serta tidak mengakui satu sama lain. Bahkan mereka enggan mengakui Allah.

Walaupun orang-orang tersebut mengakui kebenaran ajaran Ibrahim di dalam hati, mereka memiliki kedengkian serta tidak mau menanggung rasa malu. Ibrahim maju seraya menyatakan bahwa ia hanya beriman kepada Allah; juga ia hanya berserah diri kepada Kehendak Allah.

Maka Allah memilih Ibrahim dari tengah-tengah umat manusia sebagai manusia pilihan Allah, firman-Nya: “Dan orang yang membenci kepada agama Ibrahim, hanyalah orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya Dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam. Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS. al-Baqarah: 130-132).

Allah memberkati Ibrahim beserta golongan yang mengikuti pribadi Ibrahim. Setelah itu, Ibrahim mengatakan kepada orang-orang yang saling berselisih: “Sesungguhnya berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah, hanyalah didasari rasa tentram dan kasih sayang bagi kalian sendiri dalam kehidupan dunia ini. Kelak pada Hari Kiamat, sebagian kalian mengingkari sebagian lain dan sebagian kalian mengutuk sebagian lain, dan tempat kembali kalian memang Neraka dan takkan ada satupun yang membela kalian.”

Setelah memahami bahwa Allah yang telah menyelamatkan Ibrahim sewaktu menghadapi perapian yang membara, Namrud beserta para pengikutnya merasa dipermalukan serta takut akan ada lebih banyak orang yang percaya kepada Ibrahim dibanding kepada kerajaannya.

Kemudian Namrud berupaya mengalahkan Ibrahim dengan memberi pertanyaan sebagai tantangan: “Kami sadari bahwa kamu memang tetap hidup dari tengah-tengah perapian tetapi kamu tidak menghadirkan sembahanmu di hadapan kami. Maka kami takkan percaya kepadamu.”

Ibrahim mengatakan: “Tuhankulah Yang Menghidupkan maupun Yang Mematikan siapa yang Dia kehendaki, sebab Dialah Yang Maha Kuasa atas segala hal yang berada di langit maupun di bumi.”

Seketika Namrud memanggil dua orang budak. Lalu Namrud membunuh salah satunya dan membiarkan seorang yang lain tetap hidup. Namrud semakin menyombongkan diri: “Aku pun memiliki kuasa di bumi terhadap orang-orang itu sebab akulah raja, dan aku pun dewa yang sanggup menghidupkan maupun mematikan; maka aku bertaruh dengan seluruh budak yang kumiliki bahwa kamu takkan bisa menunjukkan bukti-bukti tentang Tuhanmu itu kepada diriku.”

Ibrahim berkata: “Sekalipun kamu memberi seisi bumi kepadaku, ketahuilah bahwa segala yang ada di bumi beserta yang ada di langit adalah milik Allah. Maka lihatlah ke arah matahari yang terbit itu, sesungguhnya Allah adalah Yang Menerbitkan Matahari dari arah timur, jika memang terdapat kuasa pada dirimu terhadap matahari maka terbitkanlah matahari dari arah barat.”

Seketika Namrud tertegun dan menjadi bisu di hadapan Ibrahim. Lalu banyak orang yang meninggalkan dan memisahkan diri dari kepemimpinan Namrud dan mereka mendirikan kekuasaan mereka sendiri. Dengan diiringi banyak pengikut, Ibrahim meninggalkan tempat kelahirannya untuk memenuhi perintah Allah SWT.

Ibrahim sempat mengajak ayahnya agar meninggalkan penyembahan berhala dan berangkat bersamanya dalam mengikuti Allah SWT. Namun, sang ayah yang telah merasa lelah terhadap seruan-seruan semacam ini, menghendaki Ibrahim pergi meninggalkannya untuk waktu yang lama. Meskipun demikian, Ibrahim masih sempat berdoa memohonkan pengampunan untuk ayahnya sebagai janji dan wujud anak yang berbakti terhadap orang tua.

Akan tetapi terdapat peringatan Allah yang menyadarkan Nabi Ibrahim supaya tidak lagi memohonkan pengampunan untuk ayahnya. Sebab ayahnya merupakan orang yang menolak serta memusuhi penyembahan kepada Allah.

Berita Kelahiran Ishak

Allah memilih kaum keluarga Ibrahim supaya menerima karunia istimewa diantara umat manusia di muka bumi, firman-Nya: “Dan Kami anugrahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Ya’qub, dan Kami jadikan kenabian dan Al kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan Sesungguhnya Dia di akhirat, benar-benar Termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. al-Ankabut: 27).

Sebagaimana Allah telah berjanji kepada Ibrahim bahwa ia beserta golongan pengikutnya akan memperoleh berkat beserta karunia yang berkenan di dunia beserta anugerah yang kekal di akhirat; yakni upah terbaik untuk hamba-hamba Allah yang beriman. Atas pengabdian sepenuhnya ini, maka Allah memberkahi Ibrahim, serta menyampaikan kabar kelahiran Ishak, demikian pula Ya’qub sebagai penerus. Dalam al-Quran Allah berfirman:

“Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya’qub. dan masing-masingnya Kami angkat menjadi Nabi.” “Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi.” (QS. Maryam: 49-50).

Sewaktu Ibrahim memikirkan tentang keadaan generasi pewarisnya, ia berdoa kiranya Allah mengaruniakan seorang putra yang termasuk golongan saleh. Maka Allah berjanji akan mengaruniakan seorang putra sebagai pewaris Ibrahim.

Beberapa waktu setelah Ibrahim memperoleh abak yakni Ismail, Ibrahim menerima kunjungan para tamu istimewa yakni tiga malaikat berwujud tiga laki-laki. Akan tetapi wujud ketiga malaikat ini berbeda dengan rupa manusia yang selama ini ditemui Ibrahim. Ia pun merasa asing, dan bersegera mempersiapkan jamuan khusus untuk ketiganya. Ibrahim menghidangkan daging anak sapi panggang kepada mereka, namun dibuat heran karena ketiganya tidak memakan hidangan tersebut.

Para malaikat lalu menenangkannya dan menyampaikan kabar gembira kepada Ibrahim bahwa Ishaq akan lahir untuknya, dan Ya’qub akan disebut sebagai penerus Ishaq.

Baca Juga...