Kisah Perbedaan Pendapat Imam Malik dan Imam Syafi’i Mengenai Rezeki

Kisah Inspirasi – Imam Maliki, memiliki nama lengkap adalah Malik bin Anas bin Malik bin Amr al-Asbahi atau Malik bin Anas. Beliau lahir di Madinah al-Munawwarah pada tahun 714 M atau 93H, dan meninggal pada tahun 800M atau 179H.

Malik bin Anas adalah seorang Imam Besar dan sekaligus ilmuwan muslim pakar ilmu fikih dan hadis, serta pendiri Mazhab Maliki.

Salah satu murid Imam Malik adalah Imam Syafi’i. Imam Syafi’i memiliki nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Idris as-Syafi’i, lahir pada tahun 767 Masehi dan wafat pada 820 Masehi.

Muhammad ibn Idris dikenal dengan imam as-Syafi’i dan pendiri madzhab Syafi’iy. Keduanya sama-sama merupakan Imam besar dan ilmuwan muslim yang sangat terkenal di zamannya.

Pada suatu hari, terjadi pembicaraan yang cukup alot antara Imam Malik dengan Imam Syafi’i, mereka berdebat mengenai rezeki.

Imam Malik berpendapat bahwa sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah swt akan meberikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah swt mengurus lainnya”.

Allah swt telah menetapkan rezeki pada masing-masing hambaNya. Rezeki itu tidak mungkin tertukar. Andai seorang hamba tidak bekerja sekalipun, rezeki itu akan tetap. Demikian ungkapan Imam Malik.

Imam Syafi’i memiliki pendapat berbeda. Menurutnya, reseki itu harus diusahakan. Itu juga bagian dari takdir Tuhan yang Maha Kuasa.

“Seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki (makanan)?”. Kata Imam Syafi’i memberikan perumpamaan.

Terkait
1 daripada 23

Guru dan murid itu tetap bersikukuh pada pendapatnya masing-masing.

Hingga suatu ketika, Imam Syafii keluar berjalan dan melihat serombongan orang petani tengah memanen anggur. Diapun membantu mereka.

Setelah pekerjaan selesai, Imam Syafii memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa. Imam Syafii sangat gembira, bukan karena mendapatkan anggur, tetapi pemberian itu telah menguatkan pendapatnya.

Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana ia akan mendapat rezeki. Seandainya dia tak membantu memanen, niscaya tidak akan mendapatkan anggur.

Imam Syafi’i bergegas menjumpai Gurunya Imam Malik. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, beliau bercerita,:Imam Syafii sedikit mengeraskan bagian kalimat, “seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya”.

Mendengar itu Gurunya Imam Malik tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Imam Malik berucap pelan.

“Sehari ini aku memang tidak keluar, hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur segar untukku.”

“Saya tak bekerja seperti burung dalam contoh tadi. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab. Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya.” Tambah Imam Malik

Guru dan murid itu saling pandang lalu kemudian tertawa.

Dua Imam Mazhab mengambil dua hukum yang berbeda dari hadis yang sama. Begitulah cara Ulama bila melihat perbedaan, bukan dengan cara menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapatnya.

 

Baca Juga...