Kisah Salam Perpisahan Terakhir Buat Sang Ibu yang Divonis Terinfeksi Virus Corona

  • Bagikan
Kisah Salam Perpisahan Terakhir Buat Sang Ibu

Kisah Inspirasi – Ini adalah kisah nyata yang dialami Michelle Bennett, warga Whasingtone, Amerika. Ibunya, Carolann Christine Gann, divonis terinfeksi Virus Corona dan mendapat perawatan intensif.

Saat masa perawatan ibunya sampai dinyatakan koma, Bennett tidak bisa melakukan banyak lantaran keluarga pasien corona tidak diizinkan untuk menjenguk keluarganya.

Beberapa hari dalam perawatan, sang ibu dinyatakan sudah hampir dikatakan tidak tertolong lagi. Dia lalu menyampaikan keinginannya kepada perawat, agar anaknya hadir di dekatnya.

Iya, Carolann ingin memegang tangan, mengusap kepala, dan mengatakan hal-hal yang ingin saya sampaikan, sebagai sesuatu yang bisa dilakukan terakhir buat anaknya.

Namun apa daya, hal itu tidak mungkin dan tidak sesuai prosedur. Sampai akhirnya, seorang perawat di rumah sakit tempat Carolann dirawat, berinisiatif agar Bennett tetap bisa menyampaikan salam perpisahan kepada sang ibu.

Perawat tersebut kemudian menggunakan ponselnya dan menghubungi Bennett via video call. Ia menyampaikan jika napas ibunya, Carolann kian berat dan kemungkinan hidupnya tidak akan lama lagi.

Dengan sedih Bennet mengangkat telepon.

“Saya mengangkat telepon dan melihat wajah ibu saya dalam keadaan tidak berdaya. Saya mendengar perawat agar saya bisa mengucapkan selamat tinggal,” ucap Bennett.

Air mata Bennet tumpah. Dia tak kuasa menahan kesedihannya. Mengetahui sang ibu akan pergi selamanya, tanpa dia bisa hadir di dekatnya.

Dia meminta perawat agar tetap melakukan sesuatu yang terbaik. Perawat dan beberapa tim medis hanya menjanjikan untuk tetap menemani pasien berusia 75 tahun itu hingga hembusan napas terakhirnya.

Bennett mengatakan berbicara dengan ibunya yang sedang koma selama 10 menit. Di momen terakhirnya itu, ia menyampaikan rasa cintanya kepada sang ibu dan memaafakan kesalahannya selama ini.

Ia mengakui sulit untuk mengungkapkan perasaan di saat seperti itu. Namun ia berharap ibunya bisa mendengar kata-kata terakhir yang disampaikannya.

“Maafkan saya ibu, saya mencintaimu. Saya tahu saya tidak punya kesempatan untuk mengatakannya. Tidak apa-apa jika mau pergi sekarang,” ujar Bennett mengulang salam perpisahan terakhir dengan mendiang ibunya.

Dalam tempo satu jam kemudian, Carolann diketahui menghembuskan napas terakhirnya.

Bennett mengatakan ia bisa melihat para perawat di ruangan tersebut menangis melepas kepergian ibunya.

“Saya tahu sulit rasanya bagi mereka (perawat). Saya tidak bisa membayangkan berada di garis depan merawat pasien dan harus pulang dengan membawa risiko terinfeksi virus Corona,” ujarnya.

“Tetapi kasih sayang dan empat para perawat untuk tetap menemani pasien seolah-olah itu adalah ibu mereka sendiri. Itu menjadi satu hal paling menakjubkan yang saya alami,” ungkapnya menambahkan.

Michelle Bennett tak pernah membayangkan jika ia masih memiliki kesempatan untuk mengucapkan salam perpisahan terakhir kepada ibunya yang divonis terinfeksi virus Corona, meski hanya melalui video call.

 

  • Bagikan